Jimmy Napitupulu: Wasit Top Indonesia yang Awalnya Iseng, Berubah Pikiran karena Bisa Keliling Dunia Modal Sempritan

Penulis: Dedi Supriadi  •  Kamis, 28 Mei 2026 | 04:58:01 WIB
Jimmy Napitupulu memulai karir wasit setelah berpengalaman sebagai pemain sepak bola.

SULAWESI UTARA — Kisah karir Jimmy Napitupulu di dunia sepak bola tidak dimulai dari garis lapangan sebagai wasit. Pria kelahiran Pekanbaru itu justru mengawali langkahnya sebagai pemain. Ia pernah memperkuat PSPS Pekanbaru di Piala Suratin, bermain di Perserikatan bersama PSJS Jakarta Selatan, dan aktif di Liga Mahasiswa.

Alih-alih menjadi pelatih seperti kebanyakan mantan pemain, Jimmy memilih jalur berbeda. "Ada teman, dia teman main bola juga. Waktu itu saya tinggal di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Diajak waktu itu karena rata-rata pemain bola itu, begitu kariernya sudah habis, kalau enggak jadi wasit ya jadi pelatih," ujar Jimmy di kanal YouTube Sport77 Official.

Alasannya sederhana. "Untuk menjadi pelatih, kami bukan pemain top. Siapa yang percaya ya, pemain kampung saja istilahnya pemain abal-abal mau jadi pelatih pula. Akhirnya saya memilih jadi wasit. Iseng awalnya, waktu itu 1995. Umur saya kalau enggak salah masih 29 tahun," lanjutnya.

Modal Sempritan Bisa Keliling Asia

Ketidakseriusan Jimmy berubah drastis saat krisis moneter 1997-1998 melanda. "Akhirnya saya memutuskan untuk jadi wasit 1997 untuk serius ya. Awal mulai enggak serius, iseng-iseng aja. Tahun 1995-1996 itu masih awal karir," kata alumnus fakultas hukum UKI Jakarta itu.

Momen perubahan terjadi ketika ia mengikuti lisensi wasit C2 provinsi. "Instruktur saya bilang begini, 'Saya modal sempritan bisa keliling dunia'. Saya pun kaget. Hah? Modal sempritan keliling dunia? Yang benar aja. Saya pikir begitu kan," kenang Jimmy.

"Terus saya tanya, 'Pak, bagaimana caranya?' Dia jawab, 'Setelah saya jadi wasit nasional saya ambil lisensi FIFA. Saya hanya modal sempritan, bisa keliling seluruh Asia'. Dari situ, setelah krisis moneter, saya serius jadi wasit," lanjutnya.

Klub Wajib Punya Wasit di Era Perserikatan

Sebelum menjadi wasit nasional, Jimmy sempat merasakan atmosfer kompetisi Perserikatan. Ia memperkuat Bakti 78, anggota PSJS Jakarta Selatan, dan bermain di Divisi 1 PSSI 1988. "Zaman itu enggak ada profesional, masih amatir. Satu grup dengan PSIM Yogyakarta, Persema Malang, Persiwa Karawang. Jadi saya sempat bertanding di level nasional," tuturnya.

Menariknya, sambil bermain, Jimmy tetap menekuni ilmu kepelatihan dan mengambil lisensi wasit. Kebijakan era Perserikatan mewajibkan setiap klub mengirimkan anggotanya untuk dididik menjadi wasit. "Tujuannya apa? Sosialisasi peraturan permainan ketika mereka bermain. Dulu begitu. Jadi semua klub itu harus punya wasit," jelas Jimmy.

Ia pun mendapat surat panggilan dari klubnya, Bakti 78, untuk mengikuti pendidikan wasit. "Sehingga ketika ada timbul permasalahan di lapangan, kita sebagai wasit menyampaikan pada teman-teman," tuntas Jimmy.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: bola.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top