SULAWESI UTARA — Ekspansi Piala Dunia menjadi 48 tim memberi Afrika jatah terbanyak: sepuluh slot otomatis setelah DR Congo mengalahkan Jamaika di playoff antar-konfederasi Maret lalu. Namun sejauh ini, hasil yang diraih tim-tim CAF masih jauh dari kata konsisten. Senegal, yang dianggap sebagai andalan benua, harus mengakui keunggulan Prancis 3-1 setelah tampil impresif di babak pertama.
Dua tim Afrika justru menunjukkan potensi besar namun gagal menuai hasil maksimal. Maroko mendominasi Brasil sebelum jeda hidrasi babak pertama—menciptakan sejumlah peluang emas—tapi hanya mampu mencetak satu gol. Kemenangan 1-0 atas Skotlandia juga seharusnya bisa lebih telak jika lini depan lebih tajam.
Pantai Gading, di sisi lain, bermain imbang melawan Jerman selama satu jam dan unggul lebih dulu. Pelatih memainkan strategi serangan balik cepat lewat Amad Diallo dan Yan Diomande, bukan sekadar bertahan mati-matian. Namun Jerman memanfaatkan kedalaman skuad mereka: dua gol dari pemain pengganti Deniz Undav memupus harapan Les Éléphants.
Tunisia menjadi titik terlemah Afrika. Mereka memecat Sabri Lamouchi setelah dihajar Swedia 5-1, lalu kalah 4-0 dari Jepang di bawah Hervé Renard—pelatih ketujuh sejak kualifikasi dimulai. Kekacauan manajerial ini membuat skuad kehilangan arah.
Afrika Selatan juga menuai kritik. Pelatih memilih formasi lima bek di laga pembuka, gaya bermain yang asing bagi tim Hugo Broos sebelumnya. Hasilnya: dikalahkan Meksiko, lalu hanya bermain imbang berkat penalti kontroversial melawan Ceko. Jika ingin lolos ke 32 besar, mereka harus mengalahkan Korea Selatan di laga pamungkas grup.
Kelemahan pertahanan Aljazair yang sudah terlihat saat kalah dari Nigeria di Piala Afrika kembali terulang. Argentina menghukum mereka 3-0 tanpa ampun. "Jika pertahananmu tidak bisa menghentikan Akor Adams, jangan harap bisa menghentikan Lionel Messi," tulis analis Guardian. Laga melawan Yordania, Senin nanti, menjadi uji coba krusial untuk mengembalikan stabilitas.
Ghana justru membalikkan tren negatif dengan kemenangan dramatis atas Panama di menit akhir. Meski tidak bermain cantik, tim asuhan Carlos Queiroz menunjukkan disiplin dan kegigihan khas Portugal. Sementara itu, Mesir—eks tim Queiroz—gagal mempertahankan keunggulan atas Belgia, tapi bangkit menghancurkan Selandia Baru di babak kedua dan kini memuncaki Grup G.
Mesir, Maroko, dan Pantai Gading diprediksi aman melaju. Ghana punya peluang besar. Cape Verde dan DR Congo—dua tim kecil Afrika—tampil terhormat: Cape Verde menahan imbang Spanyol dan Uruguay, sementara DR Congo hanya kalah tipis dari Portugal. Namun untuk membuktikan bahwa jatah sepuluh slot bukan sekadar angka, CAF butuh setidaknya lima tim menembus 32 besar. Hasil sementara masih jauh dari target itu.