SULAWESI UTARA — Direktur Utama JSMR Rivan A. Purwantono mengungkapkan, kajian tersebut masih berjalan dan melibatkan koordinasi intensif dengan pemegang saham. Hal ini disampaikannya dalam paparan publik di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
"Saat ini JSMR terus berkoordinasi dan masih berkoordinasi dengan pemegang saham dengan Danantara maupun dengan perusahaan yang masuk di dalam streamlining," kata Rivan.
Sebagai operator jalan tol terbesar di Indonesia, Jasa Marga punya pengalaman panjang mengelola ruas tol mulai dari perencanaan hingga pemeliharaan. Keahlian inilah yang membuatnya menjadi kandidat logis ketika Danantara ingin menata ulang aset-aset BUMN Karya yang selama ini juga memegang konsesi beberapa ruas tol.
Rivan menilai kebijakan penataan bisnis BUMN yang tengah berlangsung bertujuan menciptakan nilai tambah dan efektivitas di lingkungan perusahaan pelat merah. "Diharapkan memberikan value creation bagi perseroan dan pemangku kepentingan," ujarnya.
Sayangnya, Rivan belum merinci ruas tol mana saja yang masuk dalam pembahasan. Namun, yang jelas, BUMN Karya seperti Waskita Karya dan PP (Persero) memang tercatat memiliki beberapa ruas tol di luar Jawa yang pengelolaannya dinilai kurang efisien jika tidak ditangani operator murni.
Jika realisasi, pengambilalihan ini bukan sekadar perpindahan kepemilikan. Jasa Marga bisa langsung mengintegrasikan ruas-ruas tersebut ke dalam ekosistem tol yang sudah mereka kelola, termasuk sistem transaksi dan pemeliharaan.
Bagi pengendara, kabar ini patut dinantikan. Pengalaman Jasa Marga dalam menjaga standar pelayanan jalan tol—mulai dari penerangan, aspal, hingga kecepatan penanganan kecelakaan—bisa langsung diterapkan di ruas yang diambil alih.
Selain itu, efisiensi operasional yang didapat dari skala ekonomi yang lebih besar berpotensi menahan laju kenaikan tarif tol di masa mendatang. Namun, semua itu masih bergantung pada hasil kajian dan keputusan pemegang saham.
Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa era BUMN Karya yang merangkap sebagai pengelola tol mungkin akan segera berakhir. Fokus mereka ke depan diprediksi kembali ke bisnis inti konstruksi, sementara pengelolaan aset diserahkan ke ahlinya—seperti Jasa Marga.