MINAHASA SELATAN — Guncangan gempa bumi tektonik melanda wilayah ini pada Sabtu siang. Berdasarkan laporan BMKG, episenter gempa berlokasi di darat, sekitar 12 kilometer tenggara Kabupaten Minahasa Selatan, dengan kedalaman 10 kilometer.
Guncangan dirasakan dalam skala intensitas III hingga IV MMI di beberapa kecamatan. Warga di Kecamatan Amurang, Modoinding, dan Tompasobaru melaporkan guncangan yang membuat perabotan rumah bergerak dan benda-benda ringan terjatuh.
Warga Berhamburan, Aktivitas Sempat Terhenti
Rina Tumundo, warga Kelurahan Amurang, mengatakan ia sedang memasak di dapur saat guncangan terjadi. “Saya langsung lari keluar sambil teriak. Tetangga juga pada keluar rumah, semua panik,” ujarnya sesaat setelah gempa.
Aktivitas di sejumlah pasar tradisional dan sekolah sempat terhenti. Para pedagang dan murid-murid dievakuasi ke lapangan terbuka sebagai langkah antisipasi. Hingga satu jam setelah gempa, belum ada laporan kerusakan bangunan atau korban jiwa.
BMKG: Gempa Dangkal Akibat Sesar Aktif
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Manado, melalui keterangan tertulis, menjelaskan bahwa gempa ini merupakan gempa bumi dangkal. “Penyebabnya adalah aktivitas sesar aktif di daratan Sulawesi Utara. Mekanisme sumber gempa adalah sesar geser atau strike-slip,” tulisnya.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab. “Pastikan informasi hanya bersumber dari kanal resmi BMKG. Jangan percaya kabar bohong tentang prediksi gempa susulan yang lebih besar,” tegasnya.
Belum Ada Laporan Kerusakan Signifikan
Plt. Kepala BPBD Minahasa Selatan, Jefry Lontoh, mengatakan timnya telah diterjunkan ke lapangan untuk melakukan kaji cepat. “Sejauh ini belum ada laporan kerusakan bangunan. Kami masih memantau terutama di daerah lereng yang rawan longsor,” ujarnya.
Data BMKG menunjukkan, hingga pukul 15.00 WITA, belum tercatat adanya gempa susulan. Wilayah Sulawesi Utara memang dikenal sebagai kawasan rawan gempa karena berada di jalur pertemuan lempeng tektonik dan sesar aktif.