SULAWESI UTARA — Google resmi mentransisikan aplikasi Fitbit menjadi Google Health App lebih dari sepekan lalu. Pembaruan ini menjanjikan integrasi lebih erat antara Fitbit, Google Fit, dan Health Connect dalam satu pusat data kesehatan. Namun, hasil jajak pendapat dari Android Authority menunjukkan reaksi publik yang kontras.
Sebanyak 51% responden mengaku tampilan baru Google Health App lebih hidup dan menarik secara visual, tetapi justru lebih sulit digunakan. Hanya 5% yang menyukai cara kerja aplikasi ini namun tidak suka dengan desainnya. Sementara itu, 13% responden bersikap acuh tak acuh, dan 9% lainnya belum menerima pembaruan ini.
Data Tersembunyi dan AI yang "Bawel"
Keluhan terbesar pengguna adalah navigasi data yang membingungkan. Pengguna dengan akun stuartgiles mengeluhkan proses mencari metrik dasar—seperti jumlah langkah hari sebelumnya—menjadi "misi yang hampir mustahil" setelah pindah ke Google Health App. Statistik dan grafik yang dulu mudah diakses kini tidak bisa diurutkan, letaknya tidak konsisten, dan bahkan tersembunyi di beberapa bagian aplikasi.
Masalah lain datang dari fitur AI coach yang dianggap terlalu mendominasi. Alih-alih menjadi asisten yang bisa dipanggil saat dibutuhkan, AI ini terus-menerus menampilkan teks panjang dan spekulatif di layar utama. Pengguna craigalanfowler yang ikut serta dalam uji coba publik (public preview) mengatakan ia sudah memberikan banyak masukan, tetapi tidak ada yang diakomodasi oleh Google.
"Saya menggunakan AI di banyak aspek kehidupan, tetapi untuk kesehatan harian, saya hanya ingin melihat data dan grafik. Teks AI yang bertele-tele itu tidak membantu dan malah membuat aplikasi sulit dipakai," tulisnya dalam kolom komentar.
Dampak ke Pengguna: Dari Setia ke Fitbit hingga Beralih ke Apple Watch
Kekecewaan ini tidak main-main. Beberapa pengguna lama Fitbit, seperti omrose.farmer, mengaku mulai melirik Apple Watch sebagai pengganti. "Saya benci semua hal tentang aplikasi baru ini. Tidak ada yang intuitif, dan saya tidak bisa dengan mudah melihat tren data saya. Sedih rasanya Google merusak produk yang dulu hebat," tulisnya. craigalanfowler menambahkan bahwa ia sudah menggunakan Fitbit selama lebih dari enam tahun, tetapi kini mempertimbangkan untuk pindah ekosistem.
Mengapa Ini Penting untuk Pengguna Indonesia?
Bagi pengguna smartwatch dan fitness tracker di Indonesia, transisi ini menjadi pengingat bahwa pembaruan software tidak selalu membawa perbaikan. Google Health App seharusnya menyederhanakan pengelolaan data kesehatan dari berbagai perangkat, namun kenyataannya malah mempersulit akses ke informasi dasar. Pengguna yang mengandalkan Fitbit untuk memantau langkah harian, detak jantung, atau pola tidur kini harus beradaptasi dengan antarmuka yang kurang ramah pengguna.
Belum ada pernyataan resmi dari Google mengenai apakah keluhan ini akan ditindaklanjuti dengan pembaruan di masa mendatang. Namun, respons komunitas yang mayoritas negatif ini menandakan bahwa pendekatan "AI-first" pada aplikasi kesehatan mungkin perlu dievaluasi ulang.
FAQ: Seputar Google Health App
Apakah data Fitbit saya masih bisa dipindahkan ke Google Health App?
Ya, proses transisi dari Fitbit ke Google Health App dilakukan secara otomatis. Data historis seperti langkah, detak jantung, dan tidur seharusnya tetap tersedia, meskipun beberapa pengguna melaporkan kesulitan menemukannya di tata letak baru.
Bisakah saya kembali ke aplikasi Fitbit lama?
Setelah pembaruan paksa ini, pengguna tidak bisa lagi mengakses aplikasi Fitbit versi lama. Google telah menutup akses ke aplikasi tersebut dan menggantinya sepenuhnya dengan Google Health App.