Pencarian

80 Saham Konglomerat Masuk Daftar HSC BEI, SMAR hingga BREN Terkonsentrasi di Atas 95%

Jumat, 23 Oktober 2026 • 08:34:01 WIB
80 Saham Konglomerat Masuk Daftar HSC BEI, SMAR hingga BREN Terkonsentrasi di Atas 95%
Bursa Efek Indonesia mencatat 80 saham emiten konglomerasi masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) dengan konsentrasi kepemilikan 93,83% hingga 99,99%.

SULAWESI UTARA — Bursa Efek Indonesia mencatat 80 saham emiten konglomerasi masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC), dengan konsentrasi kepemilikan saham mencapai 93,83% hingga 99,99%. Daftar terbaru mencakup emiten dari Sinar Mas Group, Salim Group, Mayapada Group, hingga milik Prajogo Pangestu dan Haji Isam. BEI menegaskan status HSC tidak otomatis menandakan pelanggaran aturan pasar modal.

HSC merupakan kondisi ketika sebagian besar saham suatu emiten dikuasai oleh segelintir pihak. BEI menempatkan kategori ini sebagai bagian dari keterbukaan informasi bagi investor, bukan sebagai penilaian atas kualitas tata kelola emiten.

Sinar Mas Group dan Salim Group Mendominasi Daftar

Dari kelompok Sinar Mas, lima emiten tercatat masuk kategori HSC dengan konsentrasi kepemilikan yang bervariasi. PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) mencatat HSC 99,58%, diikuti PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) 99,24% dan PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE) 99,21%.

Dua emiten Sinar Mas lainnya, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA), masing-masing tercatat dengan HSC 95,76% dan 95,65%.

Kelompok Salim Group menyumbang empat emiten dalam daftar. PT DCI Indonesia Tbk (DCII) mencatat konsentrasi tertinggi di grup ini dengan 99,69%, disusul PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) 98,06%, PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) 95,08%, dan PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) 94,79%.

Mayapada hingga Emiten Milik Haji Isam

Mayapada Group menempatkan tiga emiten dalam kategori HSC. PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) mencatat konsentrasi kepemilikan hampir menyeluruh, yakni 99,99%, menjadikannya yang tertinggi dalam daftar. PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) tercatat 97,21% dan PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA) 96,68%.

Dari Lippo Group, PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) masuk dengan HSC 99,42% dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) 96,70%. Grup Djarum melalui PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) tercatat 93,83%, konsentrasi terendah dalam daftar ini.

Emiten milik tokoh bisnis juga masuk kategori serupa. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik Prajogo Pangestu mencatat HSC 97,31%. PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) milik Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam tercatat 99,95%, sementara PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) milik Mohammad Jusuf Hamka alias Babah Alun berada di 96,64%.

BEI: HSC Bukan Indikasi Pelanggaran

Dalam setiap pengumuman HSC, BEI menyertakan catatan bahwa status tersebut tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal.

"Pengumuman ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang Pasar Modal," tulis BEI dalam pengumumannya.

Pengamat Pasar Modal Hans Kwee menilai HSC merupakan indikator karakteristik struktur kepemilikan saham, bukan penilaian atas kepatuhan emiten. Menurutnya, kebijakan ini sejalan dengan praktik bursa internasional seperti yang diterapkan Hong Kong Exchange dalam memperkuat keterbukaan informasi bagi investor.

"Penting untuk ditegaskan kepada publik bahwa masuknya suatu saham ke dalam kategori High Shareholding Concentration bukan merupakan bentuk pelanggaran aturan pasar modal, melainkan sebuah indikator karakteristik struktur kepemilikan saham," ungkap Hans kepada detikcom, Kamis (22/10).

Apa Artinya bagi Investor

Konsentrasi kepemilikan yang sangat tinggi membatasi jumlah saham yang beredar di publik, sehingga likuiditas perdagangan cenderung tipis. Kondisi ini membuat harga saham lebih rentan terhadap pergerakan besar meski dengan volume transaksi kecil.

Bagi investor ritel, daftar HSC berfungsi sebagai sinyal awal untuk memeriksa struktur pemegang saham sebelum mengambil posisi. Emiten dengan free float rendah juga berpotensi menghadapi kendala saat masuk indeks tertentu yang mensyaratkan porsi saham publik minimal.

BEI secara berkala memperbarui daftar HSC sebagai bagian dari kewajiban keterbukaan informasi. Investor dapat memantau pengumuman terbaru melalui situs resmi bursa untuk melihat perubahan komposisi kepemilikan emiten yang mereka pantau.

Follow www.kabarsulut.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks