Pencarian

Pupuk Indonesia Jajaki Pabrik Urea di Rusia, Danantara Sebut Kunci Ketahanan Pangan

Sabtu, 05 September 2026 • 11:18:31 WIB
Pupuk Indonesia Jajaki Pabrik Urea di Rusia, Danantara Sebut Kunci Ketahanan Pangan
Pupuk Indonesia menandatangani nota kesepahaman dengan Ruschem untuk studi pengembangan pabrik urea di Vladivostok, Rusia.

SULAWESI UTARAMenteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Bos Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan nota kesepahaman (MoU) untuk studi bersama telah diteken di sela-sela kunjungan kenegaraan di Vladivostok, Jumat (4/9). Kajian ini akan memetakan potensi pengembangan pabrik urea di kawasan Timur Jauh Rusia tersebut.

Rahmad Pribadi, Direktur Utama Pupuk Indonesia, menyatakan ekspansi ini sejalan dengan mandat Danantara agar perseroan tidak hanya memperkuat pasokan dalam negeri, tetapi juga agresif menembus pasar global. "Sesuai dengan arahan dari Danantara untuk Pupuk Indonesia bisa semakin memperkuat ketahanan pangan nasional dan juga memperluas ekspansi global, maka pada hari ini tadi kita menandatangani perjanjian MoU untuk joint study," ujarnya di Vladivostok.

Alasan Vladivostok Jadi Target Ekspansi

Pemilihan Vladivostok bukan tanpa alasan. Menurut Rahmad, lokasi geografis kota pelabuhan tersebut menghadap langsung ke Samudra Pasifik, yang selama ini menjadi pasar utama produk Pupuk Indonesia. Posisi ini dinilai strategis untuk memangkas biaya logistik dan mendekatkan pabrik ke basis konsumen.

Dari sisi bisnis, Rosan menilai kinerja Pupuk Indonesia yang semakin efisien menjadi modal kuat untuk berekspansi. "Karena kalau kita lihat dari Pupuk Indonesia ini performance-nya makin lama makin bagus, makin efisien, sehingga mempunyai potensi yang sangat besar untuk berinvestasi di Vladivostok ini dan dengan pihak Ruschem," jelas Rosan dalam keterangan persnya.

Sinergi dengan Ruschem dan Dampaknya bagi Industri

Kerja sama ini melibatkan Ruschem, perusahaan kimia asal Rusia yang akan menjadi mitra lokal. Model kemitraan ini memungkinkan Pupuk Indonesia berbagi risiko investasi sekaligus memanfaatkan akses bahan baku gas alam yang melimpah di Rusia untuk produksi urea.

Rosan menambahkan, investasi ini dirancang sebagai langkah strategis jangka panjang. "Dan diharapkan ini menjadi salah satu langkah strategis yang bisa memperkuat juga dari sektor ketahanan pangan kita dan juga ketahanan apa, industri kita," katanya.

Rencana ini masih berada di tahap awal dan belum ada kepastian nilai investasi maupun target kapasitas produksi. Hasil studi bersama akan menentukan kelayakan proyek sebelum keputusan final diambil oleh manajemen dan Dewan Komisaris Pupuk Indonesia.

Konteks Geopolitik dan Ketahanan Pangan

Langkah ini terjadi di tengah dinamika geopolitik global pasca-invasi Rusia ke Ukraina yang membuat banyak negara Barat menjauhi Moskow. Indonesia, dengan kebijakan luar negeri bebas aktif, justru membuka peluang kerja sama di sektor strategis seperti pupuk dan pangan.

Bagi Indonesia, akses terhadap produksi urea di luar negeri menjadi penting untuk mengamankan pasokan pupuk bagi sektor pertanian. Ketergantungan pada impor bahan baku dan fluktuasi harga gas domestik selama ini menjadi tantangan bagi industri pupuk nasional. Investasi di Rusia dapat menjadi alternatif sumber pasokan yang lebih stabil.

Kajian ini juga menjadi sinyal bagi pelaku industri bahwa BUMN pupuk tidak lagi hanya berfokus pada pasar domestik. Ekspansi ke luar negeri diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan membuka pasar baru di kawasan Asia-Pasifik yang selama ini dilayani Pupuk Indonesia.

Follow www.kabarsulut.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks