SULAWESI UTARA — Daftar gempa besar sepanjang tahun ini dimulai dengan gempa M7,0 di Borneo pada 22 Februari, disusul serangkaian guncangan di Tonga, Vanuatu, dan Laut Maluku Utara pada Maret-April. Jepang turut diguncang gempa M7,4 pada 20 April, sebelum Mindanao di Filipina mengalami gempa M7,8 pada 8 Juni. Rentetan berlanjut di Venezuela, Meksiko, dan Kolombia hingga akhirnya Flores diguncang gempa M7,7 pada pertengahan Agustus.
Dua Segmen Megathrust yang Belum "Bermain"
Di tengah rentetan gempa global tersebut, BMKG mengingatkan keberadaan zona megathrust yang menyimpan potensi gempa sangat besar. Dua segmen yang paling sering disebut dalam berbagai kajian ilmiah adalah Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut.
Kedua segmen tersebut memang belum menunjukkan tanda-tanda pelepasan energi dalam skala besar. Namun, catatan sejarah menunjukkan bumi di kawasan ini mampu menghasilkan gempa berkekuatan M8 hingga M9, seperti yang pernah terjadi di Aceh pada 2004 silam.
Tsunami dan Ratusan Gempa Susulan di Maluku Utara
Peristiwa di Bitung dan Maluku Utara pada April 2026 menjadi contoh nyata dampak yang ditimbulkan. Gempa M7,6 versi BMKG memicu tsunami yang terdeteksi sekitar 0,75 meter di Minahasa Utara. Hanya dalam dua hari setelah gempa utama, BMKG mencatat 699 gempa susulan.
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, dalam analisisnya yang berjudul "10 Gempa Besar 2026" mengangkat pertanyaan reflektif: "Seberapa keras lagi alam harus mengguncang bumi agar kita sadar?"
Bencana Tak Hanya Soal Mitigasi Teknis
Menurut Toto, deretan bencana ini tidak cukup dijawab hanya dengan pendekatan teknokratis seperti teknologi mitigasi, bangunan tahan gempa, radar cuaca, atau sistem peringatan dini. Manusia juga membutuhkan introspeksi diri atau muhasabah terkait cara hidup yang semakin merusak alam.
"Bencana secara ilmiah mempunyai mekanismenya sendiri. Tetapi seorang beriman boleh membaca peristiwa alam itu sebagai momentum untuk bertanya kepada dirinya sendiri. Apa yang salah dengan cara kita hidup?" tulis Toto.
Kewaspadaan Tanpa Ramalan
Tidak ada ilmuwan yang mampu memprediksi gempa besar secara presisi, baik dari sisi waktu maupun lokasi. Yang dapat dilakukan para ahli adalah menghitung probabilitas dan memetakan potensi bahaya. Karena itu, ketika berbicara mengenai kemungkinan gempa M8 bahkan M9, kewaspadaan tidak seharusnya berubah menjadi ramalan yang menakut-nakuti publik.
Sebaliknya, ketidakmampuan memprediksi juga tidak boleh dijadikan alasan untuk merasa aman. Sejarah membuktikan bumi mampu menghasilkan gempa berkekuatan sekitar M9, dan energi sebesar itu jika dilepaskan dekat kawasan padat penduduk serta disertai tsunami akan menimbulkan dampak yang sulit dibayangkan.
Manusia modern memang kerap merasa telah menguasai bumi—gunung dikeruk, hutan ditebang, laut dieksploitasi, dan sungai dikotori atas nama pembangunan serta pertumbuhan ekonomi. Namun, satu guncangan beberapa puluh detik saja dapat meruntuhkan gedung yang dibangun puluhan tahun, dan satu gelombang tsunami dapat menghapus sebuah kawasan dalam sekejap.